Skip to main content
GMIT Bethesda Tarus Tengah
Share

KELUARGA YANG BEREMPATI, BUKAN MENGHAKIMI - Khotbah Minggu 18 Oktober 2026

Keluarga yang kuat bukan keluarga yang selalu merasa benar, melainkan keluarga yang berani merendahkan hati, saling memahami, dan bersama-sama belajar menjadi lebih baik di hadapan Tuhan.
KELUARGA YANG BEREMPATI, BUKAN MENGHAKIMI - Khotbah Minggu 18 Oktober 2026
dmckoproperty

KELUARGA YANG BEREMPATI, BUKAN MENGHAKIMI

Matius 7:1-5

PENGANTAR :

Keluarga adalah tempat seseorang pertama kali belajar tentang kasih, penerimaan, pengampunan, dan kehidupan bersama. Di dalam keluarga, kita berharap menemukan tempat yang aman untuk bercerita, mengungkapkan perasaan, mengakui kesalahan, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi persoalan hidup.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada keluarga yang lebih cepat mengkritik daripada mendengarkan. Ada orang tua yang lebih cepat memarahi anak daripada memahami pergumulannya. Ada suami dan istri yang lebih sibuk mencari siapa yang salah daripada mencari jalan keluar bersama. Ada pula anak-anak yang mudah menyalahkan orang tua tanpa memahami beban yang sedang mereka tanggung. Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru menjadi tempat yang menambah luka batin.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, ia tidak selalu membutuhkan ceramah panjang atau penghakiman yang keras. Terkadang, ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami perasaannya, dan membantunya bangkit kembali. Itulah yang disebut empati. Empati adalah kemampuan untuk berusaha memahami perasaan, pergumulan, dan sudut pandang orang lain, tanpa terburu-buru menyalahkan mereka.

PENDALAMAN TEKS

Dalam Matius 7:1–5, Yesus mengajarkan agar kita tidak menghakimi orang lain dan mengingatkan bahwa sebelum melihat kesalahan orang lain, kita harus terlebih dahulu memeriksa diri sendiri. Hal ini penting karena keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan keluarga yang belajar menghadapi kesalahan dengan kasih, kejujuran, pengampunan, dan tanggung jawab.

1.  Berhenti Menghakimi, Mulailah Memahami

Matius 7:1–2 >>> “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Tuhan Yesus memulai pengajaran-Nya dengan peringatan yang tegas: jangan menghakimi. Mengapa Yesus menyampaikan hal ini? Karena manusia sering kali mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit menyadari kelemahan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan keluarga, sikap menghakimi dapat muncul melalui kata-kata seperti: “Kamu memang anak yang tidak tahu diuntung!” “Kamu selalu saja membuat masalah!” “Kamu tidak pernah mengerti saya!” “Kamu tidak becus menjadi suami atau istri!” “Kamu tidak akan pernah berubah!”

Kata-kata seperti ini bukan hanya menegur suatu perbuatan, tetapi juga menyerang harga diri seseorang. Jika terus diulang, kata-kata tersebut dapat membuat anggota keluarga merasa tidak dihargai, ditolak, dan tidak memiliki kesempatan untuk berubah.

Kita perlu membedakan antara menegur kesalahan dan menghakimi seseorang. Menegur kesalahan berarti menunjukkan tindakan yang keliru agar seseorang dapat memperbaikinya. Menghakimi berarti menjatuhkan seseorang, seolah-olah kita mengetahui seluruh isi hatinya dan berhak menentukan nilai dirinya.

Tuhan tidak melarang kita membedakan yang benar dan yang salah. Tuhan mengajar kita agar tidak bersikap sombong, merasa diri paling benar, atau menjatuhkan orang lain tanpa belas kasihan. Contoh : Seorang anak pulang terlambat dari sekolah. Orang tua yang langsung menghakimi dengan berkata, “Kamu anak nakal! Kamu memang tidak bisa dipercaya!” Akan tetapi, orang tua yang berempati akan bertanya, “Nak, mengapa kamu pulang terlambat? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Mari kita bicarakan bersama.”

Pertanyaan kedua tidak berarti orang tua membenarkan keterlambatan. Orang tua tetap dapat menegaskan aturan dan tanggung jawab, tetapi terlebih dahulu berusaha memahami keadaan anak.

Demikian pula, ketika suami atau istri melakukan kesalahan, kita tidak perlu langsung menyerang karakter pasangan. Kita dapat membicarakan persoalan dengan jujur tanpa merendahkan martabatnya. Oleh jarena itu, jangan biarkan rumah kita menjadi ruang pengadilan yang selalu mencari orang bersalah. Jadikan rumah sebagai tempat di mana setiap orang dapat didengarkan, ditegur dengan kasih, dan dibimbing untuk bertumbuh.

2.  Sebelum Mengoreksi Orang Lain, Periksalah Diri Sendiri

Matius 7:3–4 >>> Tuhan Yesus menggunakan gambaran yang sangat kuat: seseorang melihat selumbar di mata saudaranya, tetapi tidak menyadari balok di matanya sendiri. Selumbar adalah benda kecil, sedangkan balok merupakan benda yang jauh lebih besar. Melalui gambaran ini, Yesus menunjukkan betapa mudahnya manusia membesar-besarkan kesalahan orang lain sambil mengecilkan kesalahannya sendiri.

Dalam keluarga, kita sering menuntut orang lain berubah, tetapi kita sendiri tidak bersedia berubah. *Orang tua meminta anak berbicara dengan sopan, tetapi orang tua sering membentak. *Suami menuntut istri memahami dirinya, tetapi ia tidak mau mendengarkan perasaan istrinya. *Istri menuntut suami terbuka, tetapi ia sendiri sering menyampaikan kritik dengan kata-kata yang menyakitkan. *Anak menuntut orang tua memahami dirinya, tetapi tidak mau memahami pengorbanan orang tua. Inilah gambaran tentang “balok” yang tidak kita sadari.

Firman Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah cara saya berbicara telah melukai orang yang saya kasihi? Apakah saya lebih sering menuntut daripada memberi teladan? Apakah saya mau mendengarkan, atau hanya ingin didengarkan? Apakah saya mengakui kesalahan sendiri, atau selalu mencari alasan untuk membenarkan diri?

Introspeksi diri bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, introspeksi adalah tanda kedewasaan rohani. Keluarga tidak akan bertumbuh apabila setiap orang sibuk membuktikan bahwa dirinya benar. Keluarga akan bertumbuh ketika setiap orang berani berkata, “Mungkin saya juga salah. Saya perlu memperbaiki diri.” Contoh : Seorang ayah menegur anaknya karena anak itu berbicara dengan nada tinggi. Namun, ketika ayah tersebut menyadari bahwa ia juga sering membentak anggota keluarga, ia mengambil langkah untuk meminta maaf. Ia berkata, “Nak, Ayah memang perlu menegurmu, tetapi Ayah juga sadar bahwa Ayah sering berbicara terlalu keras. Ayah minta maaf. Mari kita sama-sama belajar berbicara dengan baik.” Perkataan seperti ini tidak menghilangkan kewibawaan seorang ayah. Justru, ia sedang memberikan teladan tentang kerendahan hati, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan. Oleh karena itu, sebelum menunjuk kesalahan orang lain, biarkan firman Tuhan memeriksa hati kita sendiri. Perubahan dalam keluarga sering dimulai bukan ketika kita berhasil mengubah orang lain, melainkan ketika kita bersedia membiarkan Tuhan mengubah diri kita.

3.  Empati Menolong Kita Memulihkan, Bukan Melukai

Matius 7:5 >>> “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa kita sama sekali tidak boleh menolong saudara yang melakukan kesalahan. Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa kita harus terlebih dahulu membereskan diri agar dapat menolong orang lain dengan benar.

Tujuan menolong bukanlah mempermalukan, melainkan memulihkan. Inilah dasar penting bagi keluarga yang berempati. Keluarga yang berempati tidak berarti keluarga yang membiarkan kesalahan. Empati juga bukan berarti menyetujui semua tindakan seseorang. Empati berarti berusaha memahami keadaan orang lain sambil tetap mengarahkan mereka kepada kebenaran dan tanggung jawab.

Dalam keluarga, empati dapat diwujudkan melalui tiga sikap.

  1. Mendengarkan sebelum memberikan nasihat.

Ketika anak menceritakan kegagalannya, jangan langsung membandingkannya dengan anak lain. Dengarkan terlebih dahulu apa yang ia rasakan dan alami. Ketika pasangan sedang lelah atau kecewa, jangan langsung menganggapnya berlebihan. Berikan kesempatan untuk berbicara. Kadang-kadang, kalimat sederhana seperti, “Saya mau mendengarkan. Ceritakanlah apa yang sedang kamu alami,” dapat membuka jalan bagi pemulihan hubungan.

  1. Menegur dengan kasih, bukan dengan penghinaan.

Jika seorang anggota keluarga melakukan kesalahan, bicarakan tindakannya secara jelas tanpa memberi cap buruk pada dirinya. Dari pada berkata, “Kamu memang tidak berguna,” lebih baik berkata, “Tindakanmu tadi menyakiti saya. Mari kita cari cara agar hal ini tidak terulang.” Kalimat kedua tetap menyatakan bahwa ada masalah, tetapi membuka kesempatan untuk bertanggung jawab dan memperbaiki keadaan.

  1. Memberikan kesempatan untuk berubah.

Tidak seorang pun bertumbuh menjadi pribadi yang matang dalam satu hari. Kita semua membutuhkan waktu, bimbingan, dan kesabaran. Ketika anggota keluarga mengakui kesalahan dan menunjukkan usaha untuk berubah, jangan terus-menerus menggunakan masa lalunya untuk mempermalukannya. Pengampunan bukan berarti menghapus tanggung jawab atau mengabaikan akibat dari kesalahan. Pengampunan adalah kesediaan untuk tidak terus-menerus memelihara dendam, sambil membuka jalan menuju perubahan yang nyata. Jika terjadi kekerasan atau ancaman dalam keluarga, empati juga tidak berarti korban harus diam atau bertahan dalam bahaya. Mencari pertolongan dan perlindungan merupakan langkah yang benar. Ingatlah : Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi hakim atas kehidupan orang lain, melainkan menjadi sesama yang menolong mereka bertumbuh dalam kasih dan kebenaran.

APLIKASI

Bagaimana kita menerapkan firman Tuhan ini dalam kehidupan sehari-hari?

  1. Bangun budaya mendengarkan

Berikan kesempatan kepada suami, istri, dan anak-anak untuk menyampaikan perasaan tanpa langsung dipotong atau disalahkan.

  1. Ganti kritik dengan percakapan yang membangun

Hindari kata-kata yang merendahkan. Bicarakan masalah dengan tenang, jujur, dan penuh hormat.

  1. Berani meminta maaf

Jangan menunggu anggota keluarga lain memulai perubahan. Jika kita salah, akuilah kesalahan dan mintalah maaf dengan tulus.

  1. Jadikan keluarga tempat bertumbuh

Hargai usaha untuk berubah, tegakkan batas yang sehat, dan selesaikan konflik tanpa mempermalukan satu sama lain.

Mari kita memulai perubahan dari hal-hal kecil: mendengarkan sebelum menjawab, memahami sebelum menyalahkan, dan memeriksa diri sebelum mengoreksi orang lain. Sebab, keluarga yang penuh kasih bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan keluarga yang mau menyelesaikan konflik dengan cara yang membangun.

Melalui Matius 7:1–5, kita belajar bahwa kehidupan keluarga harus dibangun di atas kerendahan hati, empati, dan kasih. Hal ini dimulai dengan *berhenti menghakimi, mulailah memahami, *sebelum mengoreksi orang lain, periksalah diri sendiri, *gunakan empati untuk memulihkan, bukan melukai.

Jangan sampai anak-anak takut menceritakan masalahnya kepada orang tua karena takut dimarahi. Jangan sampai suami dan istri kehilangan keberanian untuk berbicara jujur karena takut direndahkan. Jangan sampai rumah menjadi tempat orang saling menyalahkan, tetapi tidak ada yang bersedia mendengarkan. Tuhan menghendaki keluarga yang menjadi tempat bertumbuh dalam kasih, kebenaran, pengampunan, dan kedewasaan. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran saya membuat anggota keluarga merasa dipahami, atau justru membuat mereka merasa dihakimi?

Mungkin kita tidak dapat langsung mengubah semua anggota keluarga. Namun, kita dapat memulai dengan mengubah cara kita berbicara, cara kita mendengarkan, dan cara kita menanggapi kesalahan orang yang kita kasihi.

Keluarga yang kuat bukan keluarga yang selalu merasa benar, melainkan keluarga yang berani merendahkan hati, saling memahami, dan bersama-sama belajar menjadi lebih baik di hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita membangun keluarga yang tidak cepat menghakimi, tetapi cepat mendengarkan; tidak mudah melukai, tetapi bersedia memulihkan; tidak hanya menuntut perubahan, tetapi juga menjadi teladan perubahan.

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 18 Oktober 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

Klik untuk mengapresiasi kabar pelayanan ini.
Bagikan:
AdminGMIT
Penulis • Redaksi
AdminGMIT

Kontributor berita dan pewarta kabar pelayanan jemaat Portal GMIT Flobamora.

Lihat Semua Tulisan Penulis
Warta Berikutnya Ini adalah warta terbaru.

Tanggapan & Komentar Jemaat (0)

Belum ada komentar untuk warta ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tuliskan Tanggapan / Doa

Identitas email dan nomor WhatsApp Anda tidak akan dipublikasikan.

Persembahan Atas